Deden06sttg's Weblog

Arsip untuk ‘Cerita’ Kategori

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Posted by deden06sttg pada November 23, 2008

sttg1

PROFIL SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT

A. SEJARAH SINGKAT YAYASAN AL – MUSADDADIYAH GARUT

Yayasan Al – Musaddadiyah Garut didirikan oleh Prof. K. H Anwar Musaddad (Alm) dan Ibu, Hj. Atikah Musaddad (Alm) beserta putra – putrinya. Yayasan ini didirikan dalam rangka partisipasi dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyelenggaraan lembaga pendidikan.

Yayasan Al – Musaddadiyah didirikan berdasarkan akta Notaris Aam Warlimah, SH, Nomor 25 tanggal 27 Agustus 1975. Yayasan Al – Musaddadiyah berdomisili di Garut.

Yayasan Al – Musaddadiyah menyelenggarakan pendidikan formal dan non – formal.

· Bidang pendidikan formal yang dikelola antara lain :

a. Taman Kanak – Kanak Al – Qur’an (TKA)

b. Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMTP)

c. Madrasah Tsanawiyah (MTs)

d. Madrasah Aliyah (MAU/MAK)

e. Sekolah Menengah Umum (SMU)

f. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

g. Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)

h. Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STT-Garut)

· Bidang pendidikan non formal yang dikelola meliputi :

a. Taman Pendidikan Al – Qur’an (TPA)

b. Anak Binaan Al – Musaddadiyah (ABIM)

c. Majlis Ta’lim

d. Pondok Pesantren

Sejalan dengan perkembangan dan penerapan teknologi dalam proses pengubahan sumber daya alam menjadi produk industri dan jasa, memerlukan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu baik disiplin ilmu murni maupun ilmu terapan. Ilmu yang berkaitan dengan perencanaan, perancangan, operasi dan pengelolaan suatu perusahaan / organisasi antara lain disiplin ilmu teknik industri dan teknik sipil.

Dengan meningkatnya kebutuhan ahli dibidang teknik dari masyarakat mengakibatkan daya tampung perguruan tinggi teknik, khususnya PTN tidak mencukupi. Sadar akan tanggung jawabnya untuk membantu pemerintah dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pada tanggal 01 – 09 – 1990, Yayasan Al – Musaddadiyah mendirikan Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STTG).

Yayasan Al – Musaddadiyah selaku yayasan penyelenggara Sekolah Tinggi Teknologi Garut secara konsisten berupaya ikut berperan serta dalam upaya di atas. Sejak didirikan tahun 1990, Sekolah Tinggi Teknologi Garut terus mengkhusukan diri dalam menyelenggarakan bidang pendidikan tinggi bidang teknologi dan informasi, sehingga pada saat ini telah memiliki 4 (empat) jurusan, yaitu jurusan : Teknik Industri, Teknik Sipil, Teknik Informatika, dan Teknik Komputer. Dalam waktu yang tidak lama lagi diharapkan akan ditambah dengan beberapa jurusan lagi, sehingga pada akhirnya akan terbentuk suatu Institut Teknologi.

B. VISI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT

Visi Sekolah Tinggi Teknologi Garut adalah membantu pemerintah dalam bidang pendidikan tinggi. Sebagai upaya untuk “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat, jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan dan melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

C. MISI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT

Membawa STTG menjadi Centre of Excellence dalam menyiapkan sumber daya manusia bekualitas, yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi serta memiliki moral dan akhlak yang mulia.

D. TUJUAN SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT

Adapun yang menjadi tujuan Sekolah Tinggi Teknologi Garut adalah:

a. Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani

b. Menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial.

c. Menumbuhkan rasa percaya pada diri sendiri serta sikap dan perilaku yang inovatif dan kreatif.

d. Memberikan kesempatan belajar dan kesempatan meningkatkan keterampilan bagi anak yang berasal dari daerah /  bertempat tinggal di daerah terpencil.

e. Memperhatikan dan mengembangkan anak didik yang berbakat istimewa sesuai dengan tingkat pertumbuhan pribadinya.

f. Meningkatkan penulisan, penerjemahan serta penyebaran buku karya ilmiah dan hasil penelitian di dalam maupun di luar negeri dalam rangka pengembangan dan memasyarakatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

g. Membina dan mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

h. Menciptakan suasana lingkungan kampus yang sehat baik jasmani maupun rohani.

Sebagai institusi pendidikan tinggi yang dinamis dan selalu mengikuti perkembangan zaman, STT – Garut selalu berusaha terus berkembang untuk menghasilkan tenaga ilmuwan dan tenaga professional yang kreatif, inovatif dengan tingkat kemampuan yang tinggi, dan mampu menjawab tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Untuk mewujudkan ini, STT- Garut membuat Rencana Pengembangan Jangka Panjang. Rencana Induk Pengembangan Lima Tahunan, dan Rencana Kerja Tahunan, untuk mengantarkan STT – Garut ke masa depan yang lebih baik.

Tulisan ini di ambil dari…

http://kampus.sttgarut.ac.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=1&Itemid=3

Ditulis dalam Cerita, Informatika, Pengatahuan Populer, Tak Berkategori | Tinggalkan sebuah Komentar »

Dongeng Negeri dalam Bahasa Asing

Posted by deden06sttg pada November 20, 2008

The Legend of Sangkuriang

The legend of Bandung begins here…
(According to the story of Sundanese Folk)

From passion, desire, love, and angry of Sangkuriang, The Eruption of Mountain Tangkuban Parahu, until now become a city…

Here is the short story…

There is a kingdom in Priangan Land. Live a happy family, a father in form of dog (his name is Tumang), a mother (her name is Dayang Sumbi), and a child call Sangkuriang. Tumang is demigod possessing magic powers.

One day, Dayang Sumbi asked her son to go hunting in the nearest jungle and she wanted some deer liver or venison. So Sangkuriang went hunting with his lovely dog, Tumang, to please his mother. After hunting all day with empty-handed, Sangkuriang began desperate and worried. Think shortly, Sangkuriang took his arrow and shot his dog. Then he took the dog liver or flesh and carried home.

He gave dog liver or flesh to his mother. Soon Dayang Sumbi fine out that Sangkuriang lied to her. She knew Sangkuriang had killed Tumang. So, She angry and hit Sangkuriang head. Sangkuriang got wounded and scar. Sangkuriang cast away from their home.

Years go bye, Sangkuriang had travel many places and on one day, he arrived at a village which is used to be his home. He met a beautiful woman whom actually his mother and felt in love with her.

Their love grew naturally and one day, when they were discussing their wedding plans, Dayang Sumbi suddenly realised that the profile of Sangkuriang’s head matched that of her only son’s who had left twenty years earlier. How could she marry her own son? But she did not wish to dissapointed him by canceling the wedding. So, although she agreed to marry Sangkuriang, she would do so only on the condition that he provide her with a lake and a boat with which they could sail on the dawn of their wedding day.

Sangkuriang accepted this condition and built a lake by damming the Citarum river. With a dawn just moment away and the boat almost complete, Dayang Sumbi realised that Sangkuriang would fulfill the condition she had set. With a wave of her supernatural shawl, she lit up the eastern horizon with flashes of light. Deceived by false dawn, the cock crowed and farmers rose for the new day.

With his work not yet complete, SangkuriaNg realised that his endeavor were lost. With all his anger, he kicked the boat that he himself had built. The boat fell over and, in so doing become the mountain TANGKUBAN PARAHU (in Sundanese, TANGKUBAN means upturned or upside down, and PARAHU means boat). With the dam torn asunder, the water drained from the lake becoming a wide plain and nowadays became a city called BANDUNG (from the word BENDUNG, which means Dam).

The legend of sangkuriang
skip to main | skip to sidebar Sagkuriang is a legend of the Sundanese people of the island of Java.

Since Malaysia and Indonesia share the Javanese people, as both modern countries were born out of the collapsed and colonised Johor Empire, Sangkuriang is as much a Malaysian folk tale as it is an Indonesian one.

The Sundanese, and all Javanese, are descended from the Melanaus of Sarawak as well as the indigenous Temuans of Peninsular Malaysia.

The legend tells about the creation of Lake Bandung, Mount Tangkuban Parahu, Mount Burangrang and Mount Tunggul in modern-day West Java, the Sunda heartland.

The story of Sangkuriang was first written in the 15th century by Prince Jaya Pakuan of Sunda.

His writings can now be found in the Bodleian Library in Oxford, Britain.

Sangkuriang was a brave and strong man who had been separated from his mother, the Sundanese princess Dayang Sumbi, since childhood.

He travelled around the world and when he returned home, he fell in love with a beautiful princess whom he did not realise was his own mother.

A day before the duo were engaged, Sangkuriang fell ill and collapsed in his fiancee’s lap.

As she cupped and massaged his head and face, she discovered a large scar beneath his hair, and realised that the handsome warrior was her own son.

Twenty years ago, she had hit him hard on the head, and caused him to leave home and travel around the world.

Sumbi told Sangkuriang who she really was.

Years ago, the King of Sunda splashed holy water from a river on a wild boar named Wayungyang, who wanted to become a human being.

Wayungyang transformed into a princess and the ruler married her. They had a daughter, Sumbi, who was blessed with superpowers and eternal youth.

As soon as Sumbi was born, Wayungyang reverted to boar form and was never heard of again.

When she reached her teens, Sumbi abandoned palace life and possible marriage because “all of the Sundanese men lusted for her”.

Accompanied by her magical pet dog Tumang, Sumbi went to live in a mountainous region of her kingdom.

One day, Sumbi lost her hair pin and told Tumang to look for it.

The dog wanted to become a human being and marry the princess, and thus it drank some holy water from a river. His wish soon came true.

Sumbi became pregnant with a son, and as soon as this happened, Tumang reverted to dog form.

Sumbi’s son Sangkuriang grew up to be a handsome warrior with superhuman strength.

One day, he hit his pet Tumang for chasing after a wild boar, which he believed was his grandmother. The dog died, and Sangkuriang slaughtered it for meat.

As they were about to have dinner, Sumbi realised that Sangkuriang had killed their pet dog, and in anger, struck him on the head.

After hearing the story, Sangkuriang remained unconvinced that Sumbi was really his mother, and insisted on marrying the beauty.

She thus set an impossible condition for him to marry her – build a gigantic lake by filling a massive valley with water, as well as a huge ship, all in one night.

However, the Herculean Sangkuriang almost made it, with the help of his friends, the fairies.

Sumbi was horrified. She lit up the eastern horizon with her magical shawl and created a false dawn.

Sangkuriang, who had finished his work shortly after “dawn”, realised that “dawn had come too early” and that he had “failed”.

In his anger, he overturned the ship and it became Mount Tangkuban Parahu [the overturned ship].

Two piles of wood used as raw material for the ship became Mount Burangrang [heap] and Mount Tunggul [stump].

The lake became Lake Bandung.

Sangkuriang jumped into the lake, but his mother pulled him out with her magical shawl. She cast a spell on him, to restore his memory of who he really was, and carried him in her arms to the heavens atop Mount Puteri [princess].

Sangkuriang was made into an Indonesian film in 1982 starring the late Suzanna Van Osch and Clift Sangra.

The Maling Kundang Story Tales

Once upon a time there is a boy called Maling kundang who lived in a small village in West Sumatra.
He lived with his mother, Nyi Ronggeng. They were very, very poor. After Maling Kundang became an adult, he decided to earn money in the big city. He was bored with his life and try to searched for a better life.And he went to sailed away and left his mother alone in their village.
Years goes years come he became rich with his trading works, he has married a girls whose named Nyi Roro Kidul, and they lifes in their imperium.
In between he became more greedy and under his unconsciousness he became arrogant and have thinks everything could be bought.But alas he also forgot his mother who still waited for his return homes.

One day, Maling Kundang and his wife went to Malin Kundang’s village by sailing ship. That day, Nyi Ronggeng heard that there were a man and his wife who were very rich coming. Nyi Ronggeng felt that the man was her son who had gone many tears ago.
Nyi Ronggeng ran to their sailing-ship. When she saw that man, she recognized her son. She shouted and called her son. “Maling Kundang …Maling Kundang ..my dear son.”
But Maling Kundang was too ashamed to acknowledge that the woman who was shouting was his mother. Maling Kundang’s mother was very surprised that her son didn’t want to acknowledge her.She became very angry. She put a spell on Maling Kundang to be a stone.
And Maling Kundang really became a stone.

Ditulis dalam Cerita, Pengatahuan Populer | 1 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.